Sunday, 10 June 2018

Si Ujung Tombak Statistik

BPS, Badan Pusat Statistik.
Instansi yang sudah memenuhi kebutuhan hidupku sejak aku masih di dalam kandungan sampai sekarang.

Bukan bermaksud terlalu melebih-lebihkan tapi memang begitu kenyataannya. Bagaimana tidak, punya Bapak yang seorang pensiunan pegawai BPS dan sekarang aku pun kerja di BPS. Jadi pas sekali ungkapan itu kan ya.

Bapakku seorang KSK, Koordinator Statistik Kecamatan. Dahulu dikenal dengan sebutan Mantis,  Mantri Statistik. Sedikit banyak sejak dulu aku sudah tahu kerjaan BPS itu seperti apa.  Kegiatan BPS tidak pernah lepas dari yang namanya sensus dan survei, dan seorang KSK adalah petugas pengumpul data yang langsung berhubungan dengan responden.

Wajar kalau sekarang KSK dikenal sebagai ujung tombak kegiatan statistik. Bagaimana tidak, sebagus apapun metode statistik yang dirancang akan menjadi percuma jika KSK tidak bekerja sesuai dengan yang seharusnya.

Dari dulu Bapak sering cerita bagaimana keluh kesahnya menjadi seorang KSK. Kalau cerita ditolak responden sudah biasa. Makanya dulu Bapak selalu curhat

"Bapak ga mau jadi KSK di daerah perkotaan, orang kota kesannya sombong. Kalau mendata ke lapangan lebih enak berhadapan dengan orang di pedesaan. Bisa sehari survei, kekenyangan minum teh manis karena tiap berhenti di rumah penduduk disuguhkan minum. Kalau di kota, jangankan minum pagarnya saja ga terbuka".

Cerita yang paling berkesan di ingatanku adalah ketika dulu ada pendataan P4B (lupa kepanjangannya) untuk pemilu, Bapak pulang bawa buku besar mirip buku akuntansi. Isinya ada pas foto dan data diri banyak perempuan. Waktu itu aku ditugaskan Bapak mengisi kuesioner P4B dengan data-data di dalam buku itu. Berdasarkan ceritanya Bapak mereka adalah PSK (Pekerja Seks Komersial)  yang tinggal di Bandar Baru.

Kata Bapak "beginilah kerjaan KSK, kadang dilema antara melaksanakan survei sesuai aturan atau disangka mau berbuat aneh kalau tiap hari datang ke sana". Berdasarkan hitungan Bapak kalau Beliau wawancarai semua PSK satu per satu maka akan selesai paling cepat 3 hari. Tapi kalau tiap hari ke sana entahlah apa yang bisa terjadi.  Akhirnya Bapak minta data mereka ke mucikarinya dan dikasihlah buku besar tadi. Jadi bisa dibayangkan ada berapa orang yang ada di sana.

Kenyataannya si ujung tombak kegiatan statistik harus sering mengalami banyak kegalauan, itu hanya satu contoh dari banyak dilema lain yang dialami KSK.
Jadi rasanya wajar mereka yang sudah berjuang diberi penghargaan khusus.  Bukan melulu soal materi, perhatian dari pimpinan dan bantuan semangat dari rekan kerja pasti sangat membantu mereka.

Untuk kamu yang baca tulisan ini, tolong jangan remehkan pekerjaan mereka. Kalau masih banyak tunggakan pekerjaan tanya apa masalahnya, bantu menyelesaikannya, dan beri waktu untuk mereka. Jangan berikan ancaman kalau pekerjaan sering terlambat tapi berikan telinga yang siap mendengarkan. Karena sering kali mereka hanya butuh didengarkan dan diberi tambahan semangat.

Untuk KSK si ujung tombak kegiatan statistik, tetap semangat karena percayalah setiap masalah ada solusi. Kalau plan A gagal coba plan B sampai plan Z atau bahkan plan AA,  AB dan seterusnya.

Terakhir, semoga almarhum Bapak bisa bangga anaknya ada yang kerja di BPS.  Karena itu cita-cita Bapak dari dulu.  Kami 6 bersaudara dari mulai Abang paling besar sudah didorong untuk ambil jurisan IPA dan nanti ikut ujian masuk Sekolah Tinggi Ilmu Statistik (STIS).

Tapi tidak berjalan mulus, ada yang sudah ikut ujian tetapi berdoa supaya tidak lulus, ada yang sudah berjuang keras tapi tidak lulus, ada yang ketinggalan waktu pendaftaran. Dan aku si anak bungsu yang jadi percobaan terakhir, lulus cadangan dan Bapak harap-harap cemas akankah dipanggil untuk menggantikan orang lain atau tidak.

...



Tulisan ini didedikasikan untuk grup #PerempuanBPSMenulis untuk memenuhi tantangan menulis dengan kata kunci Ayah, Statistik,  dan Survei.

No comments:

Post a Comment